Penghakiman Hukum

Senin, 15 Juni 2026

Ketika kita menyalahgunakan Hukum, kita akan berada di bawah penghakiman-Nya yang membakar dan membinasakan. Hal ini dinyatakan dengan cara yang keras ketika Nadab dan Abihu dengan lancang mempersembahkan api asing di hadapan Tuhan, yang tidak diperintahkan-Nya untuk mereka persembahkan. Kita tahu bahwa ‘keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN’. Im 10:2. Menggambarkan natur dari api ini, Tuhan, melalui Musa, menyatakan, ‘Sebab api telah dinyalakan oleh murka-Ku, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati yang paling bawah; api itu memakan bumi dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung.’ Ul 32:22.

Penghakiman yang membinasakan ini mulai berdampak atas identitas kita ketika kita menyalahgunakan Hukum sehingga itu menjadi hukum lain kita. Dosa kemudian menghasilkan maut di dalam kita melalui apa yang ‘baik’ – yaitu, Hukum – perintah-perintah yang kudus dan adil. Rm 7:10-13. Setelah berada di bawah penghakiman Hukum dengan memegang dan menjadikannya hukum lain kita, kita mendapati bahwa yang jahat ada di dalam diri kita; orang-orang yang, melalui hukum pikiran kita, ‘menghendaki berbuat apa yang baik’. Rm 7:21. Yang jahat yang ada di dalam kita ini adalah kelelahan yang termasuk dalam depresi dan kebinasaan ketika kita menyalahgunakan Hukum, mengaplikasikannya pada diri kita sendiri dan pada hubungan-hubungan kita.

‘Energi’ yang memberi makan hukum lain berasal dari kuasa yang ada dalam Hukum Elohim, menciptakan reaksi yang kuat di dalam kita. Paulus menyebut penghakiman ini ‘emosi-emosi, atau nafsu dosa’, menulis, ‘Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut’. Rm 7:5. Dalam cara ini, kita mempertahankan amarah dan sikap yang penuh semangat yang memandang rendah orang lain berdasarkan kebenaran diri sendiri. Kita mengklaim mengasihi Hukum, atau firman Elohim; namun, ini tidaklah benar. Kita mengingini Hukum itu. Dengan demikian, kita melanggar perintah, ‘Jangan mengingini!’, dan masuk ke dalam penghakimannya, yang adalah maut. Rm 7:7. Inilah kelemahan manusiawi kita yang paling mendasar.

Pembelajaran : Ulangan 32

Referensi :

Im 10:2
Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN.

Ul 32:22
Sebab api telah dinyalakan oleh murka-Ku, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati yang paling bawah; api itu memakan bumi dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung.

Rm 7:10-13
10 sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. 11 Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. 12 Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik. 13 Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.

Rm 7:21
Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

Rm 7:5
Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut.

Rm 7:7
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"

Berlangganan

Renungan Harian
Silahkan isi nama lengkap dan alamat email untuk mendapatkan renungan harian dalam bahasa indonesia.
 Renungan Bulan Ini
 Renungan Bulan Lalu