Kekepalaan dalam pernikahan

Rabu, 24 Juni 2026

Seorang istri yang menerima Kristus sebagai Kepala dan Tuhannya akan menerima suaminya sebagai kepalanya, ‘menyebutnya tuan’. Inilah poin yang disampaikan rasul Petrus ketika dia menulis, ‘Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada (terj. Bhs. Ing. ‘trusted in God’ artinya ‘kepercayaan dalam’) Elohim [Bapa]; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai (menyebut) dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik [artinya, diteguhkan dalam hidup sebagai anak] dan tidak takut akan ancaman’. 1Ptr 3:5-6.

Kita melihat bahwa penerimaan dan ekspresi iman seorang perempuan bergantung pada partisipasinya dalam aturan kekepalaan. Cara dia berelasi dengan suaminya akan menunjukkan penundukannya kepada ketuhanan dan rajani Kristus. Seorang perempuan yang tersandung pada panggilan untuk berasal dari suaminya sebagai komunitas firman, berarti tersandung pada Kristus. 1Ptr 2:8. Dia tidak mampu ‘dibangun di atas Dia’ dan tidak menghormati kekepalaan-Nya dalam gereja dan dalam rumah mereka.

Demikian juga, seorang laki-laki yang tunduk kepada ketuhanan dan rajani Kristus, Kepala-Nya, akan mempersembahkan dirinya sebagai budak kebenaran dalam persekutuan saudara-saudaranya, menjadi taat dari hati kepada bentuk ajaran yang kepadanya dia telah diserahkan. Rm 6:17-18. Dalam persekutuan ini, dia menerima kasih karunia untuk berdiam dengan pengertian – yaitu dalam budaya persembahan – dengan istrinya, menghormati istrinya sebagai ‘bejana’ multiplikasi yang telah Bapa jadikan dia. Reorientasi ini diperlukan agar persekutuan seorang laki-laki dalam syafaat dan sakit bersalin Yahweh tidak terhalang. 1Ptr 3:7. Akan tetapi, jika laki-laki itu terus memandang wajah istrinya, dia akan tersandung pada Kristus. Tanpa iman, pengakuannya adalah, ‘Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang [untuk berpartisipasi dengan sebagaimana mestinya dalam persekutuan perjamuan agape].’ Luk 14:20.

Pembelajaran : 1 Petrus 3

Referensi :

1Ptr 3:5-6
5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Elohim; mereka tunduk kepada suaminya, 6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.

1Ptr 2:8
Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Elohim; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

Rm 6:17-18
17 Tetapi syukurlah kepada Elohim! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. 18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

1Ptr 3:7
Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

Luk 14:20
Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.

Berlangganan

Renungan Harian
Silahkan isi nama lengkap dan alamat email untuk mendapatkan renungan harian dalam bahasa indonesia.
 Renungan Bulan Ini
 Renungan Bulan Lalu