Keterbatasan penglihatan kita
Selasa, 29 September 2026
Ketika kita pertama kali menerima panggilan untuk kembali kepada kasih semula, lebih dari lima puluh tahun yang lalu, kita menanggapi firman itu dengan pertobatan dan iman sedemikian rupa sehingga kita dapat melihat apa yang Tuhan katakan kepada kita. Kita tahu bahwa ada juga banyak orang yang berpegang pada firman itu dengan tipu daya sebagai sumber pemberdayaan. Hasil dari kali pertama firman tersebut adalah terbentuknya presbiteri kolegial dan penggabungan gereja-gereja. Namun, di tengah-tengah disfungsi tersebut, ada juga buah yang baik yang dihasilkan dalam kehidupan orang-orang yang hatinya tertuju pada ziarah.
Pada kali pertama firman itu, kita berusaha melakukan kehendak Elohim sesuai pengertian kita. Kita berjalan dalam terang yang kita percaya sebagai ‘yang baik’ pada saat itu. Namun, saat kita merenungkan natur ziarah kita, kita menyadari bahwa ketaatan kita cacat karena penglihatan kita terbatas. Kita masih memiliki pandangan sakramental tentang ‘perjamuan kudus’ karena kita tidak memahami persekutuan dalam perjamuan agape. Demikian pula, kita tidak memiliki persekutuan dari rumah ke rumah sebagai gereja kaki dian karena kita tidak memahami pentingnya menjadi rumah-rumah yang layak.
Kita bersukacita karena firman kebenaran masa kini terus membawakan iluminasi kepada kita sehingga sekarang kita dapat berjalan dalam terang yang ‘lebih baik’ sebagai presbiteri dan gereja kaki dian. Namun, kita menyadari bahwa kita belum mencapai apa yang ‘terbaik’. Yang ‘terbaik’ akan dinyatakan pada akhir zaman oleh satu presbiteri sedunia di sekeliling takhta Bapa, dan satu administrasi kaki dian di hadapan takhta Bapa, yang akan memberitakan injil kerajaan sebagai kesaksian di antara segala bangsa.
Selain keterbatasan penglihatan kita, kita juga menyadari bahwa mata kita belum ‘tunggal’ karena adanya motivasi-motivasi yang campur aduk di dalam hati kita. Kita masih bersifat duniawi/daging sehingga kita termotivasi oleh kepentingan diri sendiri.
Referensi :
