Memandang rendah Kristus

Rabu, 3 Juni 2026

Setiap anak Elohim harus berhenti memandang rendah ganjaran Tuhan dengan memikul kuk Kristus atas mereka untuk belajar dari-Nya. Dalam hal ini, Yesus mengarahkan para pengikut-Nya, dengan berkata, ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat [atau tertekan karena kedagingan], Aku akan memberi kelegaan (terj. Bhs. Ing. ‘rest’ artinya ‘perhentian’) kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (terj. Bhs. Ing. ‘rest’ artinya ‘perhentian’). Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.’ Mat 11:28-30.

Kristus tidak memandang rendah orang lain, juga tidak memandang rendah diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia sendirilah yang dipandang rendah. Untuk meneguhkan poin ini, nabi Yesaya menyatakan, ‘Ia dihina dan dihindari (terj. Bhs. Ing. ‘despised and rejected’ artinya ‘dipandang rendah dan ditolak’) orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.’ Yes 53:3.

Kita menyembunyikan wajah kita dari Kristus, dan karena itu memandang rendah Dia melalui kelancangan yang ada pada seorang fanatik. Seorang fanatik adalah orang yang mengingini Hukum dan hidup yang dijanjikan kepada orang-orang yang memelihara Hukum. Fanatisme kita tersingkap melalui penggunaan Hukum untuk menghakimi diri kita sendiri dan menghakimi orang lain. Kita menemukan definisi dan validasi diri melalui penghakiman-penghakiman ini. Dengan demikian, kita menolak terang pengetahuan tentang pengudusan kita yang bersinar dari wajah Kristus.

Paulus dengan jelas menyatakan bahwa melaksanakan penghakiman-penghakiman ini membawa kita kepada penghukuman Hukum. Rm 2:1. Seperti yang baru saja kita bahas, menyembunyikan wajah kita dari Kristus, melalui penghakiman-penghakiman kita terhadap diri sendiri dan orang lain, menunjukkan bahwa kita memandang rendah Dia. Hal penting untuk diperhatikan, Paulus menjelaskan bahwa dengan memandang rendah Kristus, kita juga ‘menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya (terj. Bhs. Ing. ‘despise the riches of His goodness, forbearance, and longsuffering’ artinya ‘memandang rendah kekayaan kebaikan, kelonggaran dan kesabaran-Nya’)? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Elohim ialah menuntun engkau kepada pertobatan?’ Rm 2:4. Kita mengabaikan karunia pertobatan yang telah Kristus selesaikan bagi kita, dan yang ingin Dia berikan kepada kita dalam persekutuan persembahan dan penderitaan-Nya.

Pembelajaran : Yakobus 4

Referensi :

Mat 11:28-30
28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.

Yes 53:3
Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

Rm 2:1
Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

Rm 2:4
Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Elohim ialah menuntun engkau kepada pertobatan?

Berlangganan

Renungan Harian
Silahkan isi nama lengkap dan alamat email untuk mendapatkan renungan harian dalam bahasa indonesia.
 Renungan Bulan Ini
 Renungan Bulan Lalu