Diberdayakan oleh Hukum
Rabu, 4 Maret 2026
Manusia kedagingan, melalui hukum lain, berani mengklaim memiliki Hukum Elohim, dan menggunakannya untuk membenarkan ekspektasi-ekspektasi dan penilaian-penilaian mereka terhadap orang lain, termasuk pasangan mereka.
Menyoroti hubungan antara hukum pikiran kita dan Hukum Elohim, Paulus menulis, ‘Aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik’; dan ‘di dalam batinku aku suka akan hukum Elohim’. Rm 7:16,22. Ketika disalahgunakan, Hukum itu sendiri menjadi kekuatan dan kuasa Elohim yang menggerakkan hukum lain, sehingga menimbulkan amarah cemburu. Hal ini ditunjukkan secara nyata oleh para imam kepala di pelataran Kayafas, yang menggunakan Hukum untuk membenarkan pemukulan brutal terhadap Kristus. Mat 26:65-67. Ketika Hukum disalahgunakan dengan cara ini, Hukum itu menjadi hakim bagi seseorang. Mereka mati di kayu salib di bawah murka Hukum itu seperti pencuri yang tidak bertobat. Gejolak hubungan yang tidak terselesaikan menyebabkan distrofi identitas dan kepahitan, yang merupakan ‘sampel/pratinjau’ dari siksaan kekal.
Penerapan hukum lain merupakan implikasi dari kejatuhan umat manusia, dan merupakan kelemahan yang mempengaruhi setiap orang. Iblis membapai dusta dalam pikiran kita bahwa kita dapat memperoleh kehidupan berdasarkan pemusatan pada diri sendiri. Dia mengusulkan bahwa ini akan terjadi sebagai tindakan pembuktian identitas jika kita menujukan pikiran kita untuk mencapai kehidupan yang kita inginkan melalui energi dan pemahaman yang berasal dari pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kej 3:4-6. Inilah arti dari ‘keinginan daging (terj. Bhs. Ing. ‘carnally minded’ artinya ‘berpikiran kedagingan’). Rm 8:6-8.
Pernikahan yang didirikan berdasarkan prinsip-prinsip kedagingan berada dalam keadaan yang celaka, dikendalikan oleh jala-jala dan ikatan-ikatan. Salomo menggambarkan hubungan seperti itu sebagai ‘sesuatu yang lebih pahit daripada maut’. Pkh 7:26. Jala-jala proyeksi romantis yang berpusat pada diri sendiri, dan ikatan-ikatan perjanjian yang egois, memicu kecemburuan, atau iri hati, dan kemarahan. Sebagai akibat dari Kejatuhan, dinamika ini ada dalam setiap pernikahan.
Referensi :
16 Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.
22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Elohim.
Mat 26:65-67
65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Elohim. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. 66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" 67 Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia.
Kej 3:4-6
4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, 5 tetapi Elohim mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Elohim, tahu tentang yang baik dan yang jahat." 6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.
Rm 8:6-8
6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. 7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Elohim, karena ia tidak takluk kepada hukum Elohim; hal ini memang tidak mungkin baginya. 8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Elohim.
Pkh 7:26
Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu. Orang yang dikenan Elohim terhindar dari padanya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya.
