Memandang rendah diri sendiri
Selasa, 2 Juni 2026
Orang-orang yang memandang rendah orang lain dan, melalui penilaian mereka yang sombong memandang rendah firman, pada akhirnya memandang rendah diri mereka sendiri. Mereka secara progresif menjadi lelah dan depresi, terutama ketika kebenaran mereka sendiri, atau persepsi mereka, tidak divalidasi oleh orang lain. Mereka dapat menjadi korban yang pendendam terhadap orang lain atau keadaan-keadaan mereka.
Prinsip ini terwujud dengan jelas pada Yudas, yang menolak dan memandang rendah ajaran Kristus tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya. Dari perspektif Yudas, ajaran-ajaran Yesus dan interaksi-Nya dengan orang-orang Yahudi justru kontraproduktif; hal itu menghalangi perwujudan-Nya sebagai Mesias. Yudas mengambil inisiatif untuk menghubungkan Yesus dengan mahkamah Yahudi. Dia berasumsi bahwa Yesus akan menyatakan diri-Nya kepada mereka melalui demonstrasi tanda yang sesuai. Ketika menjadi jelas bahwa Yesus akan mati karena pengkhianatan Yudas, Yudas bunuh diri sebagai ekspresi tertinggi dari kebenaran diri. Ini adalah tindakan seorang laki-laki yang memandang rendah dirinya sendiri.
Depresi yang terkait dengan memandang rendah diri sendiri termasuk dalam ketidakpercayaan. Kis 13:40-41. Pencemooh tidak percaya. Ini karena mereka mempercayai pengertian mereka sendiri tentang firman dan rasionalisasinya melalui hukum pikiran mereka. Artinya, ‘memandang rendah’ itu termasuk dalam hukum yang lain. Dengan demikian, kelelahan dan depresi yang diakibatkan oleh memandang rendah diri sendiri bukanlah bangkrut dalam roh; dan itu tidak termasuk dalam kerajaan sorga. Mat 5:3. Sebenarnya, itu adalah kejahatan yang ada di dalam diri kita. Rm 7:21.
Kelepasan dari cara hidup yang melelahkan dan merusak diri sendiri ini mengharuskan kita untuk memperhatikan instruksi Paulus dalam suratnya kepada orang Ibrani. Dia menjelaskan bahwa orang-orang menjadi depresi, atau putus asa dalam jiwa mereka, karena mereka melupakan nasihat yang ditujukan kepada mereka sebagai anak Elohim: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan (ganjaran) Tuhan, dan janganlah putus asa [atau tertekan] apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.’ Ibr 12:5-6. Orang-orang yang menerima nasihat ini pertama-tama mengakui bahwa kelelahan mereka disebabkan karena mereka memandang rendah ganjaran Tuhan ketika mereka berinteraksi dengan firman melalui hukum pikiran mereka.
Referensi :
40 Karena itu, waspadalah, supaya jangan berlaku atas kamu apa yang telah dikatakan dalam kitab nabi-nabi: 41 Ingatlah, hai kamu penghina-penghina, tercenganglah dan lenyaplah, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu, suatu pekerjaan, yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan kepadamu.
Mat 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Elohim, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Rm 7:21
Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.
Ibr 12:5-6
5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; 6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
