Tersandung karena ketidaktaatan
Selasa, 30 Juni 2026
Salah satu penyebab utama memandang rendah orang lain, yang menyebabkan kelelahan dan depresi, adalah mempertahankan ketersinggungan. Dalam hal ini, kelepasan dari ketersinggungan sangat penting untuk kita diteguhkan sebagai rumah yang layak dan untuk hubungan kita sebagai bagian dari mempelai perempuan Kristus yang sedang sakit bersalin. Mengenai masalah ketersinggungan, Yesus berkata, ‘Celakalah dunia dengan segala penyesatannya (terj. Bhs. Ing. ‘because of offences’ artinya ‘karena ketersinggungan’): memang penyesatan (ketersinggungan) harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.’ Mat 18:7.
Ketersinggungan adalah bukti dari misteri kejahatan yang bekerja di dalam hati kita, dalam pernikahan kita, dalam rumah kita, dan dalam gereja. Agur, anak Yake, menggambarkan kejahatan sebagai salah satu dari empat misteri yang tidak mungkin dimengerti melalui nalar, dengan mengidentifikasinya sebagai ‘jalan ular di atas cadas (batu)’. Ams 30:19.
Tentu saja kita tahu bahwa Kristus adalah sang Batu Karang. Rasul Petrus mengarahkan kita untuk datang kepada Kristus, ‘Batu yang Hidup’. 1Ptr 2:4. Kemudian dia menjelaskan bahwa bagi orang-orang yang percaya, Kristus itu berharga. Akan tetapi, bagi orang-orang yang tidak taat, Dia adalah ‘batu sentuhan dan batu sandungan (terj. Bhs. Ing. ‘A stone of stumbling and a rock of offence’ artinya ‘batu sandungan dan batu singgungan’)’. ‘Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Elohim; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.’1Ptr 2:8. Kita melihat bahwa misteri kejahatan dinyatakan melalui tersandung dan tersinggung karena kita tidak taat kepada firman Kristus sang Raja, yang telah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanyang merupakan bagian dari ketaatan kita.
Kita semua harus memperhatikan hal ini, karena pencobaan untuk tersinggung adalah hal yang umum dialami semua orang. Kelemahlembutan hati adalah penawar sekaligus pertahanan terhadap ketersinggungan. Roh Kudus memampukan kelemahlembutan hati saat Dia menolong kita memperoleh pengenalan diri, dan menolong kita melampaui hukum pikiran kita. Hukum pikiran kita dapat dilampaui dengan berdoa dalam Roh Kudus. Berdoa dalam Roh Kudus merupakan jalan masuk kita kepada persekutuan dan dialog yang merupakan milik Yahweh. Inilah budaya percakapan dan perilaku yang seharusnya ada dalam pernikahan kita, dalam rumah kita, dan dalam persekutuan gereja.
Ketersinggungan adalah bukti dari misteri kejahatan yang bekerja di dalam hati kita, dalam pernikahan kita, dalam rumah kita, dan dalam gereja. Agur, anak Yake, menggambarkan kejahatan sebagai salah satu dari empat misteri yang tidak mungkin dimengerti melalui nalar, dengan mengidentifikasinya sebagai ‘jalan ular di atas cadas (batu)’. Ams 30:19.
Tentu saja kita tahu bahwa Kristus adalah sang Batu Karang. Rasul Petrus mengarahkan kita untuk datang kepada Kristus, ‘Batu yang Hidup’. 1Ptr 2:4. Kemudian dia menjelaskan bahwa bagi orang-orang yang percaya, Kristus itu berharga. Akan tetapi, bagi orang-orang yang tidak taat, Dia adalah ‘batu sentuhan dan batu sandungan (terj. Bhs. Ing. ‘A stone of stumbling and a rock of offence’ artinya ‘batu sandungan dan batu singgungan’)’. ‘Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Elohim; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.’1Ptr 2:8. Kita melihat bahwa misteri kejahatan dinyatakan melalui tersandung dan tersinggung karena kita tidak taat kepada firman Kristus sang Raja, yang telah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanyang merupakan bagian dari ketaatan kita.
Kita semua harus memperhatikan hal ini, karena pencobaan untuk tersinggung adalah hal yang umum dialami semua orang. Kelemahlembutan hati adalah penawar sekaligus pertahanan terhadap ketersinggungan. Roh Kudus memampukan kelemahlembutan hati saat Dia menolong kita memperoleh pengenalan diri, dan menolong kita melampaui hukum pikiran kita. Hukum pikiran kita dapat dilampaui dengan berdoa dalam Roh Kudus. Berdoa dalam Roh Kudus merupakan jalan masuk kita kepada persekutuan dan dialog yang merupakan milik Yahweh. Inilah budaya percakapan dan perilaku yang seharusnya ada dalam pernikahan kita, dalam rumah kita, dan dalam persekutuan gereja.
Referensi :
Mat 18:7
Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Ams 30:19
Jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.
1Ptr 2:4
Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Elohim.
1Ptr 2:8
Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Elohim; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.
Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Ams 30:19
Jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.
1Ptr 2:4
Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Elohim.
1Ptr 2:8
Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Elohim; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.
