Kebutuhan akan kepercayaan

Rabu, 18 Maret 2026

Untuk menjalani proses yang melaluinya sepasang suami istri dapat menemukan kelepasan dari berjalan menurut daging dan meneguhkan perjanjian pernikahan mereka dalam Roh, setiap individu perlu menaruh kepercayaan kepada Tuhan dan mempercayai satu sama lain. Ini merupakan hal mendasar untuk memperoleh iman Elohim yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam percakapan baru bersama sebagai ekspresi dari persekutuan Yahweh. Seperti yang ditekankan oleh Raja Daud, ‘Adapun Elohim, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai [iman] bagi semua orang yang berlindung (terj. Bhs. Ing. ‘trust’ artinya ‘percaya’) pada-Nya.’ 2Sam 22:31.

Menjelaskan implikasi-implikasi dari menaruh kepercayaan kepada Tuhan, Raja Salomo berkata, ‘Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.’ Ams 3:5-6. Hidup berdasarkan penglihatan mata kita sendiri dan pengertian hati kita sendiri, daripada berdasarkan firman Kristus yang diberitakan oleh Roh Kudus melalui para utusan-Nya, menunjukkan kurangnya kepercayaan, meskipun kita mungkin mengklaim percaya kepada Tuhan.

Banyak pasangan mengklaim bahwa mereka percaya satu sama lain. Akan tetapi, kerapuhan dari kepercayaan mereka, yang sebenarnya bukanlah kepercayaan sama sekali, secara jelas terlihat ketika ekspektasi mereka terhadap kehidupan dan orang lain berada di bawah tekanan atau ancaman. Kurangnya keyakinan mereka terhadap pasangan mereka, bahkan terhadap Tuhan, serta kebutuhan mereka untuk mengontrol situasi, menyatakan kurangnya kepercayaan mereka. Kegagalan kepercayaan di bawah tekanan, atau saat keadaan bahaya, menyoroti bahwa hambatan utama untuk menaruh kepercayaan adalah takut akan maut dan kebutuhan untuk kontrol.

Kebutuhan akan kontrol menunjukkan bahwa kita hanya percaya pada diri sendiri. Dalam hal ini, orang bijak berkata, ‘Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal (bodoh), tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat (terj. Bhs. Ing. ‘delivered [from fear]’ artinya ‘dilepaskan [dari takut]’)’. Ams 28:26. Rasul Paulus bersaksi, ‘Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Elohim yang membangkitkan orang-orang mati.’ 2Kor 1:9.   

Pembelajaran : 2 Korintus 1

Referensi :

2Sam 22:31
Adapun Elohim, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

Ams 3:5-6
5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Ams 28:26
Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat.

2Kor 1:9
Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Elohim yang membangkitkan orang-orang mati.

Berlangganan

Renungan Harian
Silahkan isi nama lengkap dan alamat email untuk mendapatkan renungan harian dalam bahasa indonesia.
 Renungan Bulan Ini
 Renungan Bulan Lalu